Mengapa Singapura Lebih Maju Dari Indonesia?


Tahun lalu di salah satu milis saya membaca artikel mengenai feng shui jalan Sudirman dan Thamrin yang dikaitkan dengan nasib negara Indonesia. Beberapa hari lalu, seorang kawan SMA yang sekarang berprofesi sebagai partner pada salah satu perusahaan akuntan publik besar, meng email artikel yang sama untuk saya. Ia menanyakan apa komentar saya mengenai tulisan tersebut. Rupanya artikel tersebut cukup menarik minat dan disimak banyak kalangan.


Bagi yang belum pernah membacanya, artikel tadi intinya mengkaitkan ruas jalan protokol Sudirman dan Thamrin dengan keadaan Indonesia. Untuk jelasnya, berikut ini adalah cuplikan dari artikel tersebut:

"Menurut dia, siapa pun yang mendesain Jalan Sudirman dan Thamrin sangat mengerti ilmu feng shui. Dan ia sangat kagum. Jalan Sudirman dan Thamrin, menurut dia, adalah sebuah naga besar. Kepalanya menghadap selatan. Yaitu arah mata angin yang paling dinamis. Sedangkan ekor menghadap utara.

Kepala sang naga, menurut dia, ada di bundaran Ratu Plaza, juga yang ditandai oleh patung orang mengusung api. Ini pintu api dalam feng shui. Ekor sang naga berada di bundaran air mancur di depan Gedung Bank Indonesia. Dan air mancur ini menandai gerbang air.

Agar sang naga bebas bergerak, sengaja di sepanjang Jalan Sudirman dan Thamrin dibuat empat putaran: di Ratu Plaza, Semanggi, di depan Hotel Indonesia, dan putaran di depan Gedung Bank Indonesia. Empat putaran inilah yang menjamin sang naga bisa bergerak sangat dinamis
Sehingga peredaran energi bisa berjalan dengan sempurna, menciptakan sebuah situasi yang harmonis.

Uniknya, sang naga didesain menghadap selatan, dengan memperhatikan situasi lanskap kota Jakarta. Jalan Sudirman dan Thamrin sendiri memiliki lanskap peruntungan yang mirip dengan istana kaisar Cina di Beijing, yang terkenal dengan sebutan The Forbidden City. Yaitu sungai di depan dan gunung di belakang.

Di antara perbatasan Jalan Thamrin dan Sudirman juga dibelah oleh sebuah sungai. Konon, zaman dahulu, di daerah selatan, Kebayoran Baru dan sekitarnya, ada sebuah bukit kecil. Tak mengherankan, hingga sekarang pun masih tersisa Kelurahan Gunung di Kebayoran Baru.

Ekor sang naga konon juga ditandai dua simbol penting. Yaitu simbol harta karun atau kemakmuran. Di satu sisi ada Monas dan di sisi lain ada Bank Indonesia. Entah ini disengaja atau tidak, tapi memang rupanya Jalan Sudirman-Thamrin memiliki energi feng shui sangat positif. Menurut teman Mpu Peniti itu, jarang sekali ada jalan utama bisnis di sebuah kota didesain sangat sensitif menurut kaidah feng shui.

Sayang, menurut sang pakar feng shui itu, energi yang sangat positif ini kemudian dirusak dengan pembangunan yang tumpang tindih. Entah kenapa, dibangun sebuah patung Arjuna dengan sejumlah kuda, pas di ekor sang naga, yaitu di depan Gedung Indosat. Ini energi negatif.

Sebab posisi Arjuna menghadap sang ekor naga dan tampak memanah ke arah ekor itu. Kini ekor naga terpanah sehingga tidak lagi bebas bergerak. Tak mengherankan apabila rupiah tidak mau stabil-stabil. Begitu analisis sang pakar feng shui.

Energi negatif lain, ketika patung Arjuna itu direnovasi belum lama ini, beberapa patung kuda direnovasi dengan gaya transparan. Munculnya "kuda-kuda setan" yang agresif dan berbahaya ini sangat mengganggu keharmonisan energi sang naga.

Hal lain yang juga mengkhawatirkan adalah bangunan-bangunan baru yang didirikan tanpa memperhatikan keserasian lingkungan. Kebanyakan bangunan baru ini semata-mata dibangun dengan keserakahan luar biasa, tanpa memperhatikan gedung-gedung lama yang telah berdiri
sehingga perpaduannya menjadi rancu. Pergerakan sang naga pun menjadi terganggu."
Catatan: dikutip dari artikel berjudul Harmoni oleh Kafi Kurnia.

Analisa feng shui mengenai jalan Sudirman dan Thamrin diartikel tadi ada benarnya. Tanpa perencanaan yang baik dan seimbang, suatu bangunan, ruas jalan, atau kawasan akan "rusak." Situasi dan kondisi yang semrawut sudah tentu akan merusak keseimbangan aliran qi (energi), yang artinya tidak sesuai dengan kaidah feng shui.

Tetapi menghubungkan nasib suatu kota apalagi negara dengan kondisi ruas jalan tidak tepat. Diperlukan analisa yang lebih dari sekedar melihat ruas jalan protokol saja.

Mari kita ambil contoh antara Indonesia dan Singapura. Ditinjau dari faktor thian atau heaven, jelas Indonesia unggul dari Singapura. Luas kawasan, kekayaan flora fauna, kandungan tambang dan mineral yang berlimpah, kesuburan tanah dan sebagainya jelas Indonesia menang jauh. Luas wilayah Singapura yang hanya "satu titik" di peta dunia, terbatas sumber daya alami, bahkan untuk membangun dan memperluas kawasannya, Singapura harus tergantung dari pasir yang dibeli dari Indonesia. Pasokan air bersih harus disupplai dari Malaysia. Singkatnya kalau melihat faktor thian (langit), Singapura tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan NKRI.

Selanjutnya kita analisa faktor di atau bumi (baca: feng shui), faktor yang tidak kalah penting dan menentukan. Dalam faktor ini, jelas Singapura lebih unggul. Meski keadaan wilayahnya terbatas, tetapi dikelola dengan baik, teratur dan seimbang. Pengelolaan lingkungan yang terencana dan seimbang akan menghasilkan kawasan yang baik, yang artinya baik pula secara feng shui. Dengan terciptanya kondisi kawasan yang baik, bersih dan sehat maka kualitas hidup otomatis akan baik. Tingkat harapan hidup juga akan meningkat. Sebaliknya di Indonesia, potensi alam yang begitu besar terbuang percuma karena tidak ada rencana yang baik dan benar. Hutan-hutan secara sadar dirambah, kawasan hijau dialihkan peruntukkannya tanpa memikirkan keseimbangan, pengembangan daerah pemukiman, usaha dan industri tidak terarah, manajemen pembuangan sampah yang kacau balau, kekayaan di darat dan di laut dikuras habis dan sebagainya.

Tidak aneh kalau berbagai masalah (banjir, longsor, sampah, polusi dan lainnya) senantiasa dialami oleh Indonesia. Memang ada faktor alam yang menjadi penyebabnya, tetapi harus diakui sebagian besar bencana tadi karena mismanagement lingkungan. Akibatnya kondisi kualitas hidup menjadi menurun dan merugikan semua orang. Dalam kaidah feng shui disebutkan bahwa kondisi rumah dan lingkungan pasti akan mempengaruhi kualitas hidup penghuninya.

Faktor utama dan menentukan lainnya, dalam kondisi seseorang atau suatu negara, ialah faktor ren (manusia). Ini menyangkut bagaimana karakter, semangat, kerajinan dan semuanya mengenai penduduk suatu kawasan atau negara.

Etos kerja yang professional dan ulet, ikut memiliki, rajin, tertib, taat hukum dan semua sifat positif pasti akan bermanfaat bukan hanya bagi individu tetapi negara secara keseluruhan. Dalam masalah ini harus diakui Singapura melebihi Indonesia.

Dari tinjauan diatas, jelas sudah mengapa Singapura bisa mencapai tingkat kesejahteraan dan kemakmuran yang lebih dibanding Indonesia. Secara logika, dengan kekayaan alam yang berlimpah, seharusnya Indonesia lah yang akan menang. Amat disayangkan, faktanya malah
terbalik.

Dengan pengelolaan lingkungan yang baik, benar dan seimbang (prinsip-prinsip dalam feng shui) ditambah dengan memaksimalkan faktor ren (manusia) maka banyak potensi dapat diraih dalam kehidupan seseorang dan suatu bangsa.

Seseorang atau suatu negara dengan faktor thian (langit) yang bagus bukan jaminan hidupnya akan baik tanpa dibantu dengan faktor di (feng shui) yang benar dan tepat serta memaksimalkan faktor ren (manusia).

Sebaliknya, meski faktor thian (langit) seseorang atau suatu negara kurang baik, dengan bantuan faktor di (feng shui) dan meningkatkan faktor ren (manusia) dapat dipastikan bahwa banyak hal dapat dicapai dan kehidupannya akan baik.

0 comments :

Post a Comment